Syarat-syarat Diterimanya Doa
Doa dipastikan tidak ditolak manakala dalam berdoa itu bisa menghadirkan hati, bisa menyatukan dengan yang diminta dan menepati waktu-waktu yang mustajab 6 (enam) waktu, yaitu: sepertiga malam yang akhir, ketika adzan, antara adzan dan iqamat, sesudah shalat maktubah (wajib), ketika imam naik mimbar di hari Jumat, dilakukan dengan khusyuk, bersimpuh dihadapan Tuhan, rendah diri, tadharru’, lemah lembut, menghadap kiblat, dalam keadaan suci, mengangkat tangan, memulai dengan pujian Allah, shalawat kepada Nabi, mengajukan serius dalam meminta, disampaiakan dengan rasa cinta dan takut, tawassul dengan nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya dan mengesakan-Nya. Doa itu akan dikabulkan, terutama jika bertepatan dengan apa yang dikatakan oleh Rasulullah sebagai maqam mustajabah, atau permintaan masuk dalam kandungan nama Allah yang agung.
Kemungkinan Doa yang Dikabulkan
Kita sudah banyak mengetahui doa yang dibaca oleh orang, dan dikabulkannya Allah. Adakalanya doa itu disampaikan berbarengan dengan keadaan terjepit dengan menghadap sepenuhnya kepada Allah. Atau didahului dengan kebaikan, lalu Allah mengabulkan doa sebagai tanda syukur atas kebaikannya. Atau tepat dengan waktu ijabah, dan sebagainya, maka doanya dikabulkan. Orang mengira bahwa rahasia dikabulkannya doa hanya ada pada susunan kalimat, lalu mengambil redaksi doanya saja tanpa memperhatikan hal-hal lain yang menyertainya. Ini seperti sesorang yang menggunakan obat. Obat akan membawa manfaat kalau dipakai tepat waktunya dan sesuai dengan anjuran. Sementara ada orang mengira bahwa obat saja sudah cukup bisa menghilangkan penyakit, tanpa memperhatikan takaran, kapan waktunya dan sebagainya. Disinilah kebanyakan orang salah menerapkan. Dari penjelasan ini, terkadang ada doa darurat yang disampaikan diatas kubur dan dijabah, lalau orang mengira bahwa rahasianya adalah kuburan. Orang tidak mengetahui bahwa rahasianya adalah situasi yang sangat darurat/terjepit dan kesungguhan kembali kepada Allah. Jika doa seperti itu bila disampaikan di dalam masjid, tentu lebih afdhal dan dicintai Allah.
Sumber: IBNU QAYYIM AL-JAUZIYAH
The Truth of Illness and Healing = menyembuhkan SAKIT mencerdaskan HATI
by: Admin LSIK UNIMUS