Dalam kehidupan masyarakat Islam Indonesia, sering kita saksikan adanya praktek tawasulpada ruh ahli kubur. Misalnya di kubur/makam wali songgo, kuburan orang-orang shalih, dan yang dianggap keramat atau memiliki kharisma tertentu.
Tujuan ziarah kubur bukan untuk mengingat mati atau mendo’akan ahli kubur, melainkan berdo’a, memohon keselamatan dan keberkahan kepada arwah kubur, atau memohon kepada Allah melalui ruh (jamak=arwah) ahli kubur tersebut.
Umumnya masyarakat melakukan ritual seperti ini karena merasa dirinya banyak dosa sehingga do’anya tidak terkabul. Karena itu ia minta bantuan (bertawasul) kepada ruh ahli kubur orang-orang shalih itu, untuk melangsungkan permohonannya kepada Allah swt. Ritual ini kemudian dikenal dengan istilah TAWASUL/ber-WASILAH yang artinya
perantara atau penyambung lidah (Jawa : Makelar).
Dalil yang dijadikan pedoman tawasul kepada ruh ahli kubur adalah firman Allah dalam QS 5 / Al-Maidah ayat 35 di atas, yang diartikan : “Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah wasilah (perantara) kepada-Nya, dst…”
Kenapa harus pada ruh ahli kubur…? ya…, karena do’a orang-orang shalih ahli kubur itu diyakini mudah terkabul (manjur), maka dijadikannya sebagai wasilah, perantara do’a / hajatnya kepada Allah swt.
Kan sudah mati… masak bisa mendo’akan yang masih hidup?. Bisa saja, jawab mereka yang bertawasul. Bukankah arwah syuhada’ itu tetap hidup. Kalau nggak percaya, silakan baca firman Allah dalam QS al-Baqarah ayat 154.
BAGAIMANA MAKSUD SEBENARNYA
Jika kita mencermati terjemahan al-Qur’an oleh Depag RI, maka ayat ke 35 dari surat al-Maidah di atas, diartikan sebagai berikut : ”Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan.”
Menurut terjemahan Depag ini, Wasilah diartikan jalan yang mendekatkan diri (kepada Allah, pen). Sedang menurut ahli tafsir (Mufassir), wasilah diartikan lebih detail lagi yakni, اي تقربوا الى الله بطاعته والعمل بما يرضيه Mendekatkan diri kepada Allah dengan mentaati-Nya dan mengerjakan apa yang dapat menghadirkan ridlaNya (baca Tafsir Ibnu Katsir (al-Qur’an al-Azhim) juz 2 halaman 52 & at-Tafsir al Muyassar halaman 113 ).
Adapun yang dimaksud ayat 154 dari al-Qur’an Surat al-Maidah adalah : “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati, bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup tetapi kamu tidak menyadarinya.”
Pengertian hidup dalam ayat di atas adalah “hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini (dunia), di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup (mereka)itu.” Demikian penjelasan Depag RI dalam al-Qur’an dan Terjemahnya.
Oleh karena itu ruh mereka (syuhada’) sudah tidak bisa lagi berhubungan apalagi membantu hajat orang-orang yang masih hidup. Bukankah Nabi saw. telah menegaskan: ” Apabila anak Adam (manusia) telah mati, terputuslah amalnya kecuali 3 hal, Shadaqah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat dan anak shaleh yang medo’akannya”.
Perintah berziarah kubur dalam Islam, bukan untuk meminta bantuan agar ruh kubur dapat mendo’akan, apalagi meminta keselamatan, syafaat dan berkah kepadanya. Karena itu perbuatan syirik, dosa terbesar yang tidak terampunkan (QS. 4:116) dan dapat menghapus seluruh amal kebajikan. (QS. 6 :88 dan QS. 39 : 65).
Tujuan ziarah kubur adalah untuk mendo’akan para ahlinya sekaligus untuk mengingat kematian. Sementara yang bisa mengabulkan do’a manusia, baik yang banyak dosa maupun yang terjaga dari dosa, hanyalah Allah semata. seperti janji-Nya : “Berdo’alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku (berdo’a kepada-Ku) akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina”. (QS. 40/ Ghafir/Al-Mu’min : 60).
Para Nabi, Shahabat, Tabi’in, Ulama’ Wali, apalagi kyai yang sudah mati, sama sekali tidak bisa mengabulkan do’a atau permohonan manusia, sekecil apapun. Oleh karena itu jangan pernah tawasul apapun pada arwah mereka.
CONTOH TAWASUL YANG BENAR
Hadis riwayat Abdullah bin Umar ra. dari Rasulullah saw. beliau bersabda, Ketika tiga orang sedang berjalan, tiba-tiba turun hujan. Mereka berteduh di dalam gua di sebuah gunung. Mendadak mulut gua itu tertutup oleh sebuah batu besar, sehingga mereka terkurung. Satu sama lain mengatakan, Ingatlah semua amal baik yang pernah kamu lakukan karena Allah, lalu berdoalah kepada Allah dengan amal-amal itu. Semoga Allah akan menolong kesulitan kita ini. Salah seorang mereka mengatakan, Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku punya dua orang tua yang sudah renta. Mereka ikut keluargaku yang terdiri dari seorang istri dan beberapa orang anak yang masih kecil. Akulah yang memelihara mereka. Aku biasa memerah susu buat mereka, biasanya aku utamakan kedua orang tuaku itu untuk minum terlebih dahulu daripada anak-anakku. Suatu hari karena kesibukan pekerjaanku, sore-sore aku baru pulang. dan aku dapati kedua orang tuaku sudah tidur. Seperti biasanya akupun memerah susu. Aku taruh susu itu ke dalam sebuah bejana. Aku berdiri di dekat kedua orang tuaku itu, namun aku tidak mau membangunkan mereka dari tidurnya yang nyenyak. Aku juga tidak membiarkan susu itu diminum oleh anak-anakku sebelum orang tuaku, sekalipun mereka merengek-rengek di hadapanku karena lapar dan dahaga. Aku terus setia menunggui mereka dan mereka juga tetap pula tidur sampai terbit fajar. Jika Engkau tahu apa yang aku lakukan itu adalah untuk mengharap keridaan-Mu, maka tolonglah aku dari kesulitan ini, sehingga kami bisa melihat langit. Allah berkenan menolong kesulitan mereka, sehingga mereka bisa melihat langit. Yang lain segera mengatakan, Ya Allah, sesungguhnya dahulu aku pernah mempunyai seorang keponakan perempuan yang sangat aku cintai, seperti cintanya seorang laki-laki terhadap seorang perempuan yang sangat mendalam. Aku minta supaya ia mau melayani kemauan nafsuku, tetapi ia tidak mau, kecuali kalau aku memberikan uang padanya sebanyak seratus dinar. Dengan susah payah akhirnya aku mampu mengumpulkan uang sebanyak itu. Aku datang kepadanya dengan membawa sejumlah yang ia minta tersebut. Ketika baru saja aku hendak memulai menyetubuhinya, ia berkata, Wahai hamba Allah, takutlah kepada Allah. Janganlah kamu merenggut keperawanan kecuali dengan pernikahan terlebih dahulu. Seketika itu aku berdiri. Apabila Engkau tahu bahwa apa yang aku lakukan itu adalah untuk mencari keridaan-Mu, maka tolonglah kami dari kesulitan ini. Allah-pun berkenan menolong mereka. Terlihat batu besar itu agak terbuka lagi. Yang ketiga berkata, Ya Allah, sesungguhnya pernah aku mempekerjakan seorang pekerja dengan upah tiga sha` beras. Ketika sudah merampungkan pekerjaannya, ia berkata, Berikan bayaranku, tetapi aku menolaknya, sehingga dia merasa benci kepadaku. Kemudian aku terus menanami lahan yang dia kerjakan, sehingga aku mampu memiliki seekor sapi dan lahan penggembalaannya. Satu hari dia datang lagi kepadaku dan berkata, Kamu jangan menganiaya hakku. Takutlah kepada Allah. Kemudian aku katakan padanya, Ambillah sapi itu berikut dengan lahan penggembalaannya. Dia berkata, Takutlah kepada Allah, jangan menghina aku. Aku katakan, Sesungguhnya aku tidak menghina kamu. Ambillah sapi itu berikut ladang penggembalaannya. Akhirnya hartaku itu diambilnya. Jika menurut-Mu apa yang aku lakukan itu untuk mencari keridaan-Mu, maka tolonglah kami dari kesulitan yang tinggal sedikit ini. Akhirnya Allah-pun menolong mereka